Kompetisi Pedagang Arab dan Tionghoa di Batavia Abad ke-19

Sejarah Batavia abad ke-19 menyimpan cerita mengenai keragaman etnis dan bangsa, termasuk para pedagang di sana, yang merupakan kelas menengah atas dan membuat Batavia sebagai kota kosmopolitan. Selain pedagang Eropa yang mendapat privilege, ada pula pedagang Arab dan Tionghoa yang ternyata dapat menyaingi bisnis para pedagang Eropa. Pedagang Arab dan Tionghoa ini dikategorikan secara sosial sebagai kelompok “Timur Asing”, di bawah bangsa Eropa, namun masih di atas kelompok pribumi. Walaupun pada dasarnya Pedagang Arab dan Tionghoa, masing-masing memiliki wilayah dan jenis perdagangan yang berbeda dan hanya sedikit saja persamaan, tetap saja terjadi kompetisi bisnis antara keduanya.

Bagaimana kompetisi itu terjadi dipaparkan oleh Shalahuddin Alayyubi, mahasiswa Prodi Magister Sejarah dan Kebudayaan Islam, yang mempertahankan tesisnya dengan judul “Kompetisi Dagang Orang Tionghoa dan Orang Arab di Batavia abad XIX, Suatu Kajian Sejarah Ekonomi”. Ujian tesis ini dilaksanakan pada Rabu 20 Mei 2020, dalam periode Pandemi Covid19 sehingga dilakukan melalui media Zoom. Ujian dipimpin oleh Prof. Amelia Fauzia, PhD, ketua Program Studi Magister SKI dibantu oleh Mukmin Suprayogi, M.Si sebagai panitera. Ujian ini menghadirkan tiga orang penguji, yaitu Prof. Jajat Burhanuddin, PhD, dan Dr Awalia Rahma, serta Prof Dr. Dien Madjid yang merangkap pembimbing.

Menjawab para penguji, Shalahuddin memaparkan bahwa masing-masing etnis memiliki strategi agar dapat menjalankan bisnis dan memenangkan dukungan dari pemerintah kolonial Belanda. Persaingan bagi para pedagang adalah hal yang lumrah, dan dilakukan oleh semua pedagang dan kelompok pedagang. Pedagang Arab dan pedagang Tionghoa termasuk pedagang yang berhasil di Batavia, dan masing-masing memiliki strategi unik. Pedagang Tionghoa pandai menarik pasar Eropa termasuk untuk dunia hiburan malam. Sedangkan pedagang Arab menggunakan kedekatan agama sebagai pengikat hubungannya dengan pasar pribumi. Shalahuddin menemukan bahwa berbagai macam upaya dilakukan kedua komunitas pedagang ini agar Pemerintah Kolonial memfasilitasi mereka. Kedua komunitas etnis ini juga berhasil mempertahankan bisnis mereka di tengah regulasi Pemerintah Kolonial yang sangat ketat. Shalahuddin berhasil mempertahankan tesisnya, walaupun ada beberapa penguatan yang diusulkan penguji untuk memperkuat tesisnya. Selamat!