Open Minds #5 Doing Antrophological Research: Zakat and Islamic Philantropy Practices”

Ciputat – Sesi Open Minds #5 membahas bagaimana penerapan pendekatan antropologi dalam penelitian sosial, khususnya filontropi Islam, dan bagaimana memilih sekaligus menggunakan pendekatan yang tepat dalam meneliti fenomena filantropi. Dengan tema “Doing Antrophological Research: Zakat and Islamic Philantropy Practices”, dua pembahas, Dr. Kostas Retsikas (SOAS University of London, UK) dan Prof. Amelia Fauzia, Ph.D, (Kaprodi MSKI UIN Jakarta dan Direktur Sosial Trust Fund UIN Jakarta), mencoba menguraikan tips dan trik melakukan itu semua (24/6).

Berbagai penelitian tentang filantropi Islam kerap menggunakan antropologi sebagai salah satu pendekatan. Namun, belum semuanya memahami bagaimana sebetulnya cara kerja pendekatan ini dalam penelitian ilmu humaniora. Maraknya fenomena filantropi di Indonesia dan dunia pun semakin marak sudah semestinya direspon secara baik oleh para mahasiswa, dosen, dan peneliti. Tapi fakta yang ada menunjukkan bahwa kajian filantropi selama ini belum diteliti secara komprehensif lantaran kerap berkutat pada aspek-aspek yang sifatnya ekonomi seperti perhitungan wakaf dan zakat. Penelitian dengan perspektif historis maupun antropologis masih belum terjamah banyak kalangan.

Selain itu, pada pembahasan Open Minds pemateri menjelaskan fenomena filantropi dari sisi historis. Di Indonesia pengelolaan praktek filantropi setiap masa – baik masa kolonial hingga Orde Baru- mempunyai ciri-ciri berbeda. Termasuk pasca Orde Baru (masa Habibie), praktek filantropi dipromosikan sebagai tindakan sosial, atau dalam bahasa agama mengedepankan aspek hablum minal an-nas.

Dalam penerapan pendekatan antropologi, wawancara digunakan sebagai salah satu cara. Observasi sosial justru menjadi senjata utama para antropolog. Sehingga perlu diingat bahwa peneliti harus dapat meleburkan diri sebagai bagian dari masayarakat. Penggalian informasi dari narasumber sebaiknya juga dilakukan menggunakan percakapan bebas, tetapi tetap mendalam. Metode wawancara dialogis tersebut diharapkan menjadi bahan data untuk menggali secara komprehensif fenomena sosial yang terjadi di dalam masyarakat.