Open Minds #06 : “Manuskrip Untuk Studi Sejarah Pandemi”

 

Jumat, 07 Agustus 2020, Magister SKI UIN Jakarta yang berkerja sama dengan Social Trust Fund (STF) UIN Jakarta kembali menyelenggarakan kegiatan diskusi Open Minds, yang kini telah memasuki Seri #06, dengan tema “Manuskrip untuk Studi Sejarah Pandemi“. Alhamdulillah, diskusi ini berjalan lancar dan antusiasme peserta sangat baik, tidak saja mahasiswa MSKI, tapi juga dosen, peneliti, dan peserta umum dari berbagai wilayah Indonesia bisa mengikuti. Kegiatan ini diselenggarakan via aplikasi zoom, namun kuota zoom yang hanya 100 full, sehingga sisanya 89 orang mengikuti diskusi via Youtube.

Bagi pengkaji sejarah, sumber primer tentu saja menjadi andalan utama untuk merekonstruksi masa lalu. Sayangnya dalam kajian pandemi –yang blessing in disguise mulai banyak dilakukan sekarang ini– penggunaan manuskrip masih belum banyak dan maksimal. Karena itu diskusi Open Minds #06 ini mengangkat tema “Manuskrip untuk Studi Sejarah Pandemi” dan menghadirkan filolog Indonesia berkaliber internasional yaitu Prof  Dr Oman Fathurrahman, M.Hum yang juga pengampu channel Ngariksa, bersama  Prof. Amelia Fauzia, Ph.D yang merupakan Ketua Program Studi Magister Sejarah dan Kebudayaan Islam, sekaligus Direktur Social Trust Fund (STF) UIN Jakarta. Dan diskusi ini kembali di moderatori oleh Kak Febria Afia Rahmah, M.Pd.

Menurut Prof Oman Faturrahman, manuskrip merupakan tulisan tangan (Kitabah Al maktubah bil yad) yang mengandung informasi mengenai kehidupan sosial masyarakat. Dalam ilmu sejarah manuskrip merupakan salah satu sumber primer yang sifatnya lebih personal dan mendalam jika dibandingkan dengan arsip. Prof. Amelia Fauzia mengatakan bahwa penelitian yang hanya bersumber pada Arsip menjadikan tulisan kering, tidak semenarik jika dikolaborasikan dengan manuskrip. Kelemahan arsip biasanya hanya diambil dari satu sisi, kurang mendalam dan kurang mendeskripsikan keadaan, misalnya kehidupan sosial pada masa pandemi.

Prof. Oman Fathurrahman kemudian mengutip sebuah pernyataan dari Dr. Fuad Jabali, bahwa menelusuri manuskrip dianalogikan dengan menarik busur dalam memanah, semakin jauh tarikannya semakin mengena dan menancap kuat pula bahasannya. Artinya semakin tua manuskrip (semakin dekat dengan masa terjadinya peristiwa) semakin kuat pula bahasannya. Prof. Amelia Fauzia menjelaskan, bahwa pada prinsipnya, sebagai sejarawan mencari data yang lebih dekat dengan peristiwa merupakan hal yang krusial, untuk kemudian menilitinya secara case by case. Dan kuncinya adalah menemukan hal yang bisa dipercaya datanya.

Kelebihan sumber-sumber manuskrip akan memperkaya gambaran peristiwa masa lalu. Tentu saja, ada tantangan dalam mengakses, membaca, serta mengambil data dari manuskrip, yang butuh ketekunan. Serta tidak lupa dibutuhkan kemampuan yang mumpuni dalam penguasaan bahasa, karena kemampuan bahasa merupakan hal utama dalam mengkaji manuskrip.  Jika fase ini berhasil dilewati, manuskrip bisa memperkaya gambaran masa lalu yang tidak saja menggali data, tapi juga bisa memperlihatkan bagaimana perasaan dan pemikiran masyarakat memaknai suatu peristiwa. Topik diskusi ini juga ingin mendorong penggunaan manuskrip. Sumber manuskrip yang kita miliki dari Nusantara saja jumlahnya banyak, termasuk yang sudah digitalkan, belum lagi masih banyak manuskrip yang masih banyak dipegang oleh tokoh-tokoh masyarakat. Semua manuskrip itu tinggal menunggu peneliti-peneliti yang mau/bisa membaca dan mengkajianya.

Prof Oman juga menjelaskan bahwa dalam pengkajian manuskrip terdapat tahapan-tahapan dalam menelitinya. Khususnya untuk mahasiswa S1, cukup dengan manuskrip tunggal yang kemudian ditransliterasi, ditrasnkripsi, dan diterjemahkan, lalu mengemukakan pokok pikiran dalam manuskrip. Langkah awal yang dapat dilakukan ialah dengan mulai menggali riset-riset terkait penggunaan manuskrip.

Terima kasih banyak Prof Oman yang bersedia bersedekah ilmu dan waktunya untuk mengisi acara ini. Begitu juga Kak Febry selaku host dan tim leader serial diskusi Open Minds. Serta tidak lupa kepada rekan-rekan staf di Magister SKI dan STF UIN jakarta yang telah bekerja keras untuk terselenggaranya diskusi Open Minds ini.