Kontribusi Siaran Radio Rimba Raya bagi Mempertahankan Kedaulatan RI

Tidak semua upaya mempertahankan kemerdekaan itu dilakukan dengan cara perjuangan pertempuran fisik dan upaya duduk diplomasi di meja perundingan. Siaran radio yang kelihatannya remeh, ternyata berkontribusi menjadi bukti eksistensi negara yang baru lahir ini masih ada, ditengah propaganda pasukan Sekutu dan kolonial Belanda yang melakukan agresi militer pada Desember 1949. Ketika presiden dan wakil presiden ditawan Belanda dan Negara Indonesia dinyatakan sudah tidak ada alias bubar oleh Belanda, siaran-siaran Radio Rimba Raya yang disiarkan dari Aceh ternyata dapat membuka mata diplomasi internasional bahwa pemerintahan Indonesia masih berjalan.

Bagaimana Radio Rimba Raya ini dibangun, berkiprah, dan berusaha melakukan siaran yang menyebarkan informasi bahwa Indonesia telah merdeka, NKRI masih ada, pemerintah darurat RI masih ada, dan masyarakat masih berjuang mempertahankan kemerdekaan serta melawan tentara sekutu dan Belanda, ditulis dan dipertahankan dengan baik oleh Sdr. Habibi Muttaqin, mahasiswa magister Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora dalam tesisnya yang berjudul “Peran Radio Rimba Raya dalam Mempertahankan Kedaulatan NKRI 1945-1949, pada 29 Oktober 2019 bertempat ruang sidang 403 Gedung Fakultas Adab dan Humaniora. Penguji yang terdiri dari Amelia Fauzia, PhD (Kaprodi MSKI), Prof. Dr Budi Sulistiono, MA (Penguji 1), Dr. Abdul Chair (Penguji 2), Dr. Parlindungan Siregar, M.Ag (penguji dan pembimbing). dan panitera Mukmin Suprayogi, M.Si, memberi selamat kepada Sdr Habibi yang berhasil lulus menjadi Magister SKI yang ke 19 dan magister FAH yang ke 40. Selamat!